Life is for Exam

Ketika Kiamat Berguncang

Posted in Islami by hamidin on April 13, 2008

Senin, 07 April 08, selengkapnya klik di sini: http://www.alsofwah.orid/?pilih=lihatannur&id=476

Kita sering memperhatikan betapa kalang-kabutnya orang-orang ketika sebuah
gempa bumi datang mengguncang. Masing-masing hanya sibuk dan mementingkan
diri sendiri, tidak peduli dengan orang lain, sekalipun terhadap bayi yang
tengah menyusui berada dalam gendongannya. Wanita-wanita hamil pun lupa akan
diri mereka yang sebenarnya berbadan dua. Mereka seakan tidak menyadari
sedang membawa janin di dalam perut mereka. Masing-masing orang ketika itu
seakan dikomandai, ‘Selamatkanlah dirimu sendiri.!’ Sungguh mengerikan!
Sungguh egois.!

Gambaran ini demikian kentara diungkapkan dengan gaya bahasa yang indah oleh
al-Qur`an, kitab suci nan agung. Allah subhanahu wata’aala; berfirman,
artinya, “Hai manusia, bertakwalah kepada Rabbmu; Sesungguhnya keguncangan
hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).
(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, lalailah semua
wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah segala
kandungan wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk,
padahal mereka sebenarnya tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat
keras.” (QS.al-Hajj:

1-2.
Firman Allah subhanahu wata’aala yang lain yang artinya: “Hai manusia
bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu)
seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat pula
menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka
janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan janganlah
(pula) penipu (setan) memperdayakan kamu dalam mentaati Allah.” (QS. Luqman:
33)

Betapa dahsyatnya! Betapa menakutkannya kejadian hari Kiamat itu! Dan Nida`
(Panggilan) dalam ayat di atas mencakup semua manusia. Mereka ditakut-takuti
dengan peristiwa yang akan terjadi. Tidak ada keselamatan dari
kedahsyatannya itu selain dengan ketakwaan.

Wanita yang menyusui tidaklah menjadi lalai dari bayi yang sedang menyusui,
melainkan oleh suasana menakutkan yang mampu menghilangkan segala kesadaran.
Betapa tidak, pemandangan itu menggambarkan kelalaiannya, seakan ia
memandang namun tidak melihat, bergerak namun tidak sadar. Tahukah anda,
seberapa berarti orang yang ia lalai darinya itu? Ia adalah orang yang
paling dikasihinya, sang buah hati. Sementara sebagai wanita, ia adalah
manusia yang paling welas asih terhadapnya.

!

Demikian pula dengan kondisi para wanita hamil yang sampai menggugurkan
kandungan sebelum waktunya, saking dahsyatnya hari itu. Semua orang bak
orang-orang yang mabuk karena kedahsyatan dan gentingnya perkara itu. Akal
sehat dan pikiran mereka telah hilang, padahal mereka bukanlah orang-orang
yang benar-benar mabuk, akan tetapi itu karena azab Allah subhanahu wata
aala amatlah keras.!

Lalu, bagaimana gambarannya di dalam hadits Nabi shallallahu ‘alahi wasallam
? Tidak lebih dahsyat dari itu.! Banyak hadits yang menceritakan tentang hal
itu. Namun di sini, akan disinggung satu atau dua hadits saja. Salah satunya
hadits yang menyebutkan sebab turunnya ayat 1 dan 2 surat al-Hajj di atas.
Sebagaimana terdapat di dalam Sunan at-Tirmidzi, dari ‘Imran bin Hushain
radhiallahu `anhu, ayat itu turun saat Nabi shallallahu ‘alahi wasallam
sedang dalam perjalanan. Lalu beliau bertanya kepada para shahabatnya,
apakah mereka mengetahui apa gerangan hari yang digambarkan dalam ayat itu.
Mereka secara polos menjawab, “Hanya Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”
Lalu beliau mengatakan, bahwa itu adalah hari di mana Allah subhanahu wata
aala berfirman kepada Adam, “Utuslah utusan ke neraka.” Adam bertanya,
Wahai Rabbku, apa itu utusan ke neraka.?” Dia subhanahu wata’aala; berfirman
“Sembilan puluh sembilan ke neraka dan satu ke surga.” Artinya, dari
seratus orang; sembilan puluh sembilan masuk neraka dan hanya satu orang
masuk surga. Lantas para sahabat pun bertangisan. Maka Rasulullah
shallallahu ‘alahi wasallam menyarankan kepada mereka agar berupaya
semaksimal mungkin dalam beramal, minimal mendekati sempurna. Pada bagian
akhir hadits itu, Nabi shallallahu ‘alahi wasallam menyatakan, “Sesungguhnya
aku berharap kamu menjadi seperempat ahli surga.” Lalu para shahabat pun
bertakbir. Kemudian beliau meneruskan, “Sesungguhnya aku berharap kamu
menjadi sepertiga ahli surga.” Maka mereka pun kembali bertakbir. Kemudian
beliau meneruskan, “Sesungguhnya aku berharap kamu menjadi setengah Ahli
surga.” Lalu mereka pun kembali bertakbir. Kemudian perawi hadits
mengomentari, “Aku tidak tahu, apakah beliau mengatakan lagi setelah itu,
Dua pertiga’ ataukah tidak.

Dan di dalam ash-Shahihain, dari Abu Sa’id al-Khudri, juga disebutkan
tentang apa itu ‘Utusan ke neraka.’ Lalu Allah subhanahu wata’aala berfirman
“Dari setiap seribu, terdapat sembilan ratus sembilan puluh sembilan.” Lalu
Dia subhanahu wata’aala berfirman lagi, “Yang demikian itu ketika seorang
anak kecil menjadi beruban dan setiap wanita hamil menggugurkan kandungannya
serta kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka tidak mabuk
akan tetapi karena adzab Allah amatlah keras.” Hal itu membuat para shahabat
semakin ketakutan, lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa di antara kami
yang menjadi laki-laki itu.” Beliau menjawab, “Bergembiralah! Sesungguhnya
dari Ya`juj dan Ma`juj seribu dan dari kamu (hanya) satu orang.”

Sikap Manusia terhadap Hari Kiamat

Sikap manusia di dunia dan di akhirat nanti terhadap hari Kiamat ada dua
golongan:
Pertama, Golongan yang lalai dan lengah. Mereka beriman namun tidak beriman
kepada hari Kebangkitan dan hari diperlihatkannya amalan kelak. Mereka hanya
menghabiskan umur untuk mencari kelezatan sesaat, tidak beriman kecuali
dengan materi fisik. Tujuan mereka hanya dunia, mencinta dan membenci
karenanya. Segala ambisi dan angan-angan hanya sebatas itu. Mereka adalah
orang-orang yang merugi di akhirat kelak. Mereka adalah orang-orang yang
terdiam berputus asa saat terjadinya hari Kiamat. Mereka mendapatkan
kecelakaan dan kebinasaan ketika dibangkitkan dan diperlihatkannya amalan.
Allah subhanahu wata’aala; menceritakan mereka dalam banyak ayat, di
antaranya, artinya, “Dan pada hari terjadinya Kiamat, orang-orang yang
berdosa terdiam berputus asa.” (QS.ar-Rum:12)

Sedangkan golongan kedua, adalah orang-orang yang beriman atas terjadinya
hari Kiamat. Di dunia, mereka selalu waspada darinya karena mengetahui bahwa
ia adalah haq (benar-benar terjadi). Mereka itu adalah orang-orang yang
mengenal Allah subhanahu wata’aala, lalu takut kepadaNya dan merasa selalu
diawasiNya dalam apa yang mereka datangkan atau mintakan. Mereka takut akan
akhirat, lalu beramal untuknya. Dunia bagi mereka tidaklah seberapa; tidak
dapat melalaikan maupun menggoda mereka dengan gemerlapnya. Mereka itulah
orang-orang yang beriman saat terjadinya hari Kiamat. Tempat mereka di surga
di halamannya mereka bersenang-senang, dan mereka mendapatkan balasan atas
keimanan, rasa takut, dan amalan mereka. Dan, Rabb kita tidak pernah
menzhalimi siapa pun.
Mengenai kondisi kedua golongan tersebut di dunia, mari kita renungi firman
Allah subhanahu wata’aala, artinya, “Orang-orang yang tidak beriman kepada
hari Kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang yang
beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah
benar (akan terjadi). Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang
membantah terhadap terjadinya kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang
jauh.” (QS. asy-Syuro:18).
Sementara mengenai nasib kedua golongan itu dan perbedaan balasan bagi
keduanya di akhirat, mari kita renungi pula firmanNya, artinya, “Dan pada
hari terjadinya kiamat, di hari itu mereka (manusia) bergolong-golongan.
Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, maka mereka di
dalam taman (surga) bergembira. Adapun orang-orang yang kafir dan
mendustakan ayat-ayat Kami (al-Qur’an) serta (mendustakan) menemui hari
akhirat, maka mereka tetap berada di dalam siksaan (neraka).” (QS.
ar-Rum:14-16)
Amalan manusia di dunia bersumber dari tingkat keimanan mereka terhadap hal
yang ghaib dan terjadinya hari Kiamat. Manusia yang paling beriman dengannya
maka mereka adalah orang yang paling siap menghadapinya, sedangkan orang
yang paling kurang beriman kepadanya, maka mereka adalah orang yang paling
lalai dalam mempersiapkan diri menghadapinya. Iman tidaklah diukur dengan
buah atau kepemilikannya, tetapi ia adalah sesuatu yang mantap di hati dan
membuat anggota badan bangun untuk membenarkannya. Semoga kita termasuk
orang-orang yang sebenar-benar beriman dengan terjadinya hari Kiamat.!
(SUMBER: Artikel dengan judul, “Zalzalah as-Sa’ah, Dr.Sulaiman bin Hamd
al-Oadah). Oleh: Ibnu Yahya.
Netter Al-Sofwa yang dimuliakan Allah Ta’ala, Menyampaikan Kebenaran adalah
kewajiban setiap Muslim. Kesempatan kita saat ini untuk berdakwah adalah
dengan menyampaikan Artikel ini kepada saudara-saudara kita yang belum
mengetahuinya.
Semoga Allah Ta’ala Membalas ‘Amal Ibadah Kita. Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: